Beranda | Artikel
Metode dan Pembelajaran Aqidah Pada Anak
19 jam lalu

Metode dan Pembelajaran Aqidah Pada Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 1 Sya’ban 1447 H / 20 Januari 2026 M.

Kajian Tentang Metode dan Pembelajaran Aqidah Pada Anak

Menyiapkan Anak Menghadapi Masalah Kehidupan

Poin keenam dalam pendidikan aqidah adalah mempersiapkan anak agar siap menghadapi berbagai persoalan hidup. Kehidupan tidak selamanya berjalan mulus sesuai keinginan manusia. Ujian hidup akan datang silih berganti dalam bentuk yang tidak terduga. Salah satu tugas pendidik adalah membekali mental anak dengan dasar aqidah yang kuat sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan tersebut.

Setiap anak akan menghadapi persoalan yang berbeda, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pergaulan. Mereka akan bereaksi dengan cara masing-masing. Oleh karena itu, bimbingan pendidik sangat diperlukan untuk melatih mereka menghadapi masalah dengan cara yang benar. Caranya adalah dengan terus mengingatkan dan mengarahkan anak untuk mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Anak perlu ditanamkan kesadaran bahwa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka berharap pertolongan. Mereka harus merasa selalu diawasi oleh Penciptanya serta memiliki keimanan yang benar terhadap qadha dan qadar. Keimanan kepada takdir merupakan rukun iman yang sangat penting untuk mencegah anak menjadi pribadi yang mudah memberontak atau marah saat sesuatu tidak berjalan sesuai kehendaknya.

Mengelola Sifat Tergesa-gesa

Secara fitrah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan sifat tergesa-gesa. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:

خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ

“Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiya[21]: 37)

Sifat tidak sabaran ini sering terlihat pada anak-anak. Pendidik bertugas membimbing mereka agar mampu menghadapi masalah dengan tenang dan menjauhi sikap terburu-buru yang dapat menyulitkan di masa depan. Hal ini berkaitan dengan upaya melatih kecerdasan emosional anak dengan cara mengaitkan hati mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan mengenal sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, anak akan memahami kapasitasnya sebagai makhluk dan meletakkan kedudukan Al-Khaliq secara benar.

Keteladanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mencontohkan metode pendidikan ini kepada Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma saat beliau masih kanak-kanak. Ibnu Abbas adalah sahabat yang tumbuh besar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sering mendapatkan bimbingan langsung.

Suatu hari, Ibnu Abbas berboncengan di belakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Peristiwa ini menunjukkan satu poin penting bagi orang tua, yaitu memanfaatkan setiap momentum untuk menyampaikan pelajaran. Pendidikan tidak harus dilakukan secara formal di dalam kelas, tetapi bisa dilakukan dalam perjalanan atau saat berada di atas kendaraan.

Pendidik harus cerdas melihat suasana hati (mood) anak. Pelajaran akan sulit diterima jika disampaikan saat kondisi mental anak sedang tidak baik. Sebaliknya, jika suasana hati anak sedang baik, orang tua tidak boleh menunda untuk menyampaikan nasihat dan arahan aqidah yang bermanfaat.

Keberhasilan dalam menyampaikan pelajaran sangat bergantung pada pemilihan momentum. Saat anak sedang merasa senang, gembira, atau wajahnya tampak sumringah, orang tua tidak boleh melewatkan kesempatan tersebut untuk menanamkan nilai-nilai aqidah. Pelajaran sebaiknya langsung disampaikan tanpa menunda, karena suasana hati anak dapat berubah dengan cepat saat sudah tiba di rumah.

Pemanfaatan kesempatan ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat membonceng Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma. Dalam kondisi perjalanan yang rileks dan penuh kedekatan fisik, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat momen tepat untuk menyampaikan pelajaran penting. Beliau membuka pembicaraan dengan sebuah prolog untuk menarik perhatian agar anak siap mendengarkan:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ

“Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa pelajaran.” (HR. Tirmidzi)

Prolog ini menandakan bahwa pembicaraan yang akan disampaikan adalah sesuatu yang serius, penting, dan bermanfaat, bukan sekadar obrolan harian yang kosong.

Lihat juga: Hadits Arbain ke 19 – Jagalah Allah Niscaya Allah Menjagamu

Menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pelajaran pertama yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma adalah mengenai hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perlindungan-Nya:

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah ada di hadapanmu.” (HR. Tirmidzi)

Pesan ini mengandung pelajaran mendasar tentang prinsip hidup yang berkaitan dengan hukum sebab-akibat atau “tabur tuai”. Seseorang yang menanam kebaikan akan memanen hasilnya. Anak diajarkan untuk menunaikan hak Sang Pencipta terlebih dahulu sebelum menuntut hasil atau perlindungan-Nya. Prinsip ini sejalan dengan narasi Al-Qur’an:

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman[55]: 60)

Menjaga Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti menjaga hukum-hukum-Nya, menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Jika proses ini dijalankan dengan penuh komitmen, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak pernah menyalahi janji-Nya akan memberikan penjagaan dan perlindungan.

Menanamkan Kesadaran Muraqabah

Pendidikan ini bertujuan menanamkan rasa kedekatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau muraqabah di dalam jiwa anak. Anak dilatih untuk fokus pada proses ketaatan, yaitu menjaga hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui ketaatan tersebut, anak akan mendapatkan ma’iyyah (kebersamaan) yang khusus, di mana Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa membimbing dan menolongnya.

Pendidik perlu menekankan kepada anak agar tidak hanya menuntut hasil tanpa berbuat sesuatu. Anak diajarkan untuk bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang telah ia kerjakan untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebelum mengharapkan pertolongan-Nya. Dengan memahami konsep ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memiliki ketergantungan yang kuat hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penanaman aqidah pada anak mencakup pemahaman mendasar bahwa hidup adalah tentang sebab dan akibat. Siapa yang menabur benih baik, ia akan memanen hasil yang baik. Sebaliknya, siapa yang melakukan keburukan, ia akan memanen hasil yang buruk. Jika yang ditebar adalah angin, maka badai yang akan dituai. Prinsip ini harus ditanamkan ke dalam benak anak agar mereka menyadari bahwa keinginan untuk meraih sesuatu yang baik harus diawali dengan perbuatan yang baik pula.

Keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Membalas Perbuatan

Pelajaran pertama dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan anak tentang kebersamaan dan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla akan menegakkan keadilan bagi hamba-Nya; jika hamba mendekat, Allah akan mendekat, dan jika hamba menjauh, Allah pun akan menjauh. Hal ini digambarkan dalam sebuah hadits tentang tiga orang yang mendatangi majelis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Satu orang berpaling dan pergi, maka Allah berpaling darinya. Orang kedua menahan diri karena malu, maka Allah pun menahan diri terhadapnya. Sedangkan orang ketiga mendekat dan bergabung dalam majelis, maka Allah pun mendekatinya (HR. Bukhari dan Muslim).

Manusia akan dibalas sesuai dengan perbuatannya. Oleh karena itu, penting untuk tidak mencari kambing hitam atas hasil yang diterima, karena setiap individu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.

Pelajaran “Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu” merupakan satu paket utuh sebagai prinsip kehidupan: Kama tadinu tudanu (Bagaimana kamu berbuat, begitulah kamu akan dibalas). Anak perlu memahami sejak dini bahwa setiap kesalahan memiliki konsekuensi, dan setiap kebenaran akan membuahkan hasil. Menjaga hubungan baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan kebaikan, sementara merusak hubungan tersebut hanya akan membuahkan keburukan.

Bergantung Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pelajaran kedua yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma bertujuan menanamkan asma Allah Ash-Shamad, yaitu Allah tempat bergantung segala sesuatu.

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Arahan ini merupakan pendekatan psikologis untuk melatih kecerdasan emosional anak. Dalam menghadapi gangguan atau kezaliman orang lain, anak diajarkan untuk bersabar dan memaafkan daripada sekadar membalas dengan kejahatan serupa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura[42]: 43)

Kekuatan Mental Melalui Doa dan Kesabaran

Allah memberikan hak istimewa kepada orang yang dizalimi melalui doa yang dikabulkan tanpa penghalang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَّ اللَّهِ حِجَابٌ

“Waspadalah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari)

Daripada membalas keburukan dengan dendam yang tidak berujung, anak diarahkan untuk menyerahkan urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang membalas kezaliman, perselisihan mungkin terus berlanjut karena sifat manusia yang tidak mau kalah. Namun, jika ia memohon pertolongan Allah, maka Allah yang akan memberikan balasan setimpal. Orang yang menghadapi balasan dari Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mampu melawan, dan hamba yang dizalimi akan selamat dari lingkaran permusuhan.

Kesadaran ini harus ditanamkan sejak kecil agar anak memiliki kekokohan jiwa dan kekuatan mental dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai tempat bersandar yang Maha Kuat dan Maha Kokoh, anak tidak akan mudah kecewa oleh perlakuan manusia.

Hubungan jiwa yang kuat antara seorang hamba dengan Penciptanya tidak terbentuk secara instan. Banyak orang berdoa, namun tidak semuanya memiliki ikatan hati yang kokoh kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian orang berdoa dengan terburu-buru, merasa kecewa, atau bahkan seolah mendikte Allah ‘Azza wa Jalla. Ada pula yang berdoa dengan sikap seolah tidak membutuhkan pertolongan-Nya, yang mencerminkan ketidakyakinan akan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bimbingan Pendidik dalam Melatih Kesabaran

Berdoa dengan kesungguhan hati dan kepasrahan jiwa memerlukan latihan yang konsisten. Orang dewasa mungkin memiliki kemampuan untuk melatih kesabaran dan melakukan evaluasi diri secara mandiri, namun anak-anak memerlukan bimbingan penuh dari pendidik. Anak tidak dapat melatih dirinya sendiri dalam menyikapi keadaan dengan sabar atau melapangkan hati tanpa pengarahan dari orang tua.

Kunci utama dari kesabaran adalah memiliki sandaran yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melalui doa yang dipanjatkan secara terus-menerus, anak akan belajar menerima setiap ketetapan dengan hati yang lapang. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankan hal ini melalui pengulangan pesan kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)

Pesan ini bukan berarti anak tidak dilatih untuk membela diri. Namun, dasar dari setiap pembelaan diri haruslah ketergantungan kepada kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun dalam Islam diperbolehkan memberikan balasan yang setimpal atas keburukan, manusia seringkali memiliki keterbatasan kekuatan atau justru bertindak melampaui batas. Oleh karena itu, kesabaran dan memaafkan tetap menjadi opsi utama yang membutuhkan hubungan baik dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Menanamkan Iman kepada Takdir

Pelajaran ketiga yang sangat penting adalah menanamkan iman kepada takdir. Kehidupan manusia tidak terlepas dari ketetapan yang telah tertulis, baik berupa kebahagiaan maupun kesedihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempergilirkan kondisi tersebut sebagaimana firman-Nya:

وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran[3]: 140)

Anak-anak harus mulai dilatih untuk menyadari bahwa dunia bukanlah surga tempat segala keinginan terpenuhi tanpa hambatan. Secara fitrah, manusia cenderung ingin segala permintaannya dipenuhi dengan segera, sebagaimana seorang bayi yang menangis saat lapar. Namun, tugas pendidik adalah mengarahkan anak agar mampu menerima dan menjalani takdir, terutama takdir yang dirasa tidak menyenangkan atau “buruk” menurut pandangan manusia.

Menerima takdir yang baik mungkin mudah bagi setiap orang, namun menerima dan menjalani takdir yang pahit membutuhkan kekuatan iman. Banyak orang mampu menerima takdir di awal, namun gagal menjalaninya dengan konsistensi sikap yang benar. Di sinilah letak pentingnya melatih kesabaran sejak dini sebagai modal utama anak dalam menghadapi dinamika kehidupan di masa depan.

Kesabaran yang sesungguhnya harus dimulai sejak awal terjadinya sebuah peristiwa. Terdapat dua kendala utama yang sering menjadi batu sandungan bagi seseorang dalam mempraktikkan kesabaran. Kendala pertama adalah hilangnya momentum, atau yang dapat disebut sebagai kesabaran yang terlambat.

Hal ini digambarkan dalam sebuah riwayat tentang seorang wanita yang menangis histeris di pusara anaknya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menasehatinya untuk bersabar, wanita tersebut menolak karena belum mengetahui siapa yang berbicara kepadanya. Setelah menyadari bahwa orang tersebut adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia segera mendatangi beliau dan menyatakan kesabarannya. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Sesungguhnya sabar itu adalah pada benturan pertama (saat awal musibah).” (HR. Bukhari)

Pelajaran penting dari peristiwa ini adalah bahwa kesabaran harus dimulai dari titik nol, yakni tepat saat ujian itu datang, bukan setelah emosi mereda.

Kesabaran Tanpa Batas

Kendala kedua dalam bersabar adalah adanya anggapan bahwa kesabaran memiliki batasan. Sikap terburu-buru ingin keluar dari ujian seringkali membuat seseorang merasa tidak tahan lagi dan mulai mempertanyakan kapan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan datang.

Sikap seperti ini pernah terjadi pada sebagian sahabat, sebagaimana dikisahkan oleh Khabbab bin Al-Arat radhiallahu ‘anhu saat mereka mengalami penindasan di Mekkah. Mereka meminta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memohon pertolongan dan kemenangan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam justru mengingatkan mereka tentang ujian berat yang menimpa umat terdahulu ada yang digergaji tubuhnya hingga terbelah dua dan ada yang disisir dengan sisir besi hingga terkelupas daging dari tulangnya namun hal itu tidak menggoyahkan keimanan mereka. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menutup nasihatnya dengan bersabda:

وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

“Akan tetapi, kalian adalah kaum yang terburu-buru.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memenangkan agama ini, namun manusia dituntut untuk bersabar tanpa batas hingga janji Allah ‘Azza wa Jalla terpenuhi.

Ketetapan Takdir yang Mutlak

Dasar dari segala kesabaran adalah keimanan yang benar terhadap qada dan qadar. Pelajaran terakhir yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menekankan mutlaknya ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberinya kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk memudaratkan-mu, mereka tidak akan dapat memudaratkanmu kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Segala sesuatu telah diputuskan dan ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas seorang hamba, dan tugas orang tua dalam mendidik anak, adalah melatih jiwa agar tidak hanya mampu menerima takdir tersebut secara lisan, tetapi juga kuat dalam menjalaninya hingga akhir hayat. Meskipun mengandung makna yang sangat dalam, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan pelajaran aqidah ini dengan kalimat sederhana yang dapat dipahami oleh seorang anak, tanpa terjebak dalam teori yang rumit.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56004-metode-dan-pembelajaran-aqidah-pada-anak/